Showing posts with label Akuntansi. Show all posts
Showing posts with label Akuntansi. Show all posts

Sunday, March 02, 2008

Resiko Menikahi Akuntan

Posting kali ini gak penting banget benernya, cuma ketawa ngakak waktu bacanya. mungkin ada komentar dari temen-temen akuntan yang senasib hehe.... ini sih dapat dari salah satu milis, sekedar meneruskan dan copy paste =))

Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional: AKUNTAN PUBLIK.
Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa yang dilakukannya ....
  1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat mengambil makanan yang disimpan di kulkas. Aduh ...
  2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain dengan angka. Aku sih no problem, makanya dia yang mengurus anggaran rumah tangga. Eh, tiap akhir bulan dia bikin invoice tagihan profesional fee sama aku. Waktu kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya, dia malah minta advance payment.
  3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat steadily, sehingga suatu hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di ordner berlabel "Current File". Tak heran! Dia rupanya men charge mileage (jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga. Dia juga menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya. Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia malah bilang, "Ya enggaklah sayang, aku kan auditor ..."
  4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan difilekan. Alasan dia, ada peraturan yang mengharuskan dia memaintain copy hasil kerjanya selama 10 tahun. Aku sungguh-sungguh khawatir ...
  5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang kalau aku cinta dia juga. Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan terjadi mis-statement. Dan dia memintaku membuat Representation Letter mengenai masalah ini ... Duhhh
  6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan opini Qualified karena aku gak menyimpan supporting document atas expensesku.
  7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu berdatangan surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk warung di depan rumah. Ternyata, istriku mengirimi Confirmation Letter kepada mereka semua. Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari pihak eksternal lebih realible. Cape deh ....
  8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti resep. Bila resep bilang, tambahkan setengah sendok garam, atau satu sendok teh gula, atau setengah gelas air, dia selalu tidak peduli. Dia bilang kalau itu tidak material bila dibandingkan dengan seluruh menu yang disiapkan.
  9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua orang bilang kalau dia auditor. Di kamus, ternyata kata "auditor" bukan sinonim untuk kata "gila". Pasti kamusnya ketinggalan zaman.
  10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement Letter padaku. Awalnya aku bilang, "Oh, makasih ya sayang ..." Ternyata setiap tahun dia memberikan surat yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru memahami tujuan dan scope dari Engagement. Dia juga bilang, aku tidak bisa pisah dari dia begitu saja. Dia punya hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang lain. Dan dia juga menegaskan bila aku menunjuk orang lain menggantikan dia, maka harus ada komunikasi antara dia dan penggantinya, agar dia bisa menyampaikan keberatan profesionalnya. Mati kita ...
  11. Phew ... Kadang kala, aku berpikir, kalau dia membahayakan going concernnya pernikahan ini. Duh ... Kok aku jadi kebawa-bawa dia ...
  12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi ternyata ada temanku yang juga kawin dengan akuntan, punya cerita yang lebih parah. Istrinya mengkapitalisasi biaya pernikahan sebagai Preliminary Expenses, dan mengamortisasinya setiap tahun. Biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum berumah tangga, juga dikapitalisasi sebagai biaya pra-pernikahan. Juga, waktu yang dihabiskannya selama pacaran sebelum menikah sedang dalam proses valuasi, untuk dimasukkan sebagai intangible assets.
Teman-teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi auditor. Kalau kau sudah berpikir dua kali dan tetap memutuskan untuk menikahinya, pikirkan dua kali lagi. Kau harus mempertimbangkan besar risk sebelum memulai engagement.
Duh .... Aku ternyata sudah gila.
Aku, seorang auditee seumur hidup. =))=))=))

Wednesday, January 09, 2008

Tutup Tahun dan Menghabiskan Anggaran

Tahun 2007 dah lewat, kerjaan akhir tahun begitu luar biasa, di tambah libur beruntun yang mestinya kalo liburan itu asyik jadi gak asyik karena banyaknya kerjaan yang ke pending di tambah kuantitas kerjaan jadi jauh-jauh bertambah di bandingkan biasanya. ya akhir tahun identik dengan habis-habisan. maka ketika browsing dan baca berita disini saya jadi gak kaget dan dah biasa banget deh di negeri ini.

Ya Akhir tahun identik dengan menghabiskan anggaran. kalo ibu menteri keuangan bisa terkaget-kaget dengan belanja modal pemerintah dalam dua minggu yang bisa naik sampai enam persen di akhir tahun.

Seperti biasa perencanaan yang amburadol dan tolak ukur kinerja juga yang di ukur dari penyerapan anggaran ditambah lagi ketakutan akan menjadi "luncuran" tahun berikutnya. maka ketika akhir tahun rame-rame kejar setoran pake sistem kebut semalam dan semua pake sistem "simsalabim" proyek pembangunan yang nyata-nyata imposible untuk diselesaikan dalam waktu sebulan bisa langsung jadi dan dibayar hanya dalam waktu dua minggu. belanja yang gak perlu pun jadi di beli juga untuk menekan saldo kas dan bank di akhir tahun.
sebagai "tukang bikin laporan keuangan" kadang hanya geleng-geleng melihat peristiwa yang terjadi. semua bukti mendukung dan harus di buku kadang perang batin (lek seng iki sedikit hiperbola rek :D) akan hal ini terjadi. Bukti lengkap semua mendukung dan pembayaran sudah dilakukan berita acara siap operasi dan lain-lain komplit. ya sudah tidak ada pilihan lagi untuk dibuku.
efisiensi di tempatkan di paling dasar sampe gak keliatan dan sementara langsung di pinggirkan dan di lupakan dulu.

Anggaran yang harusnya sebagai alat control dan guide suatu proses kegiatan perusahaan dan menjadi seperti hanya syarat saja, penyusunan cash flow sebagai penjabaran dari anggaran disusun asal-asalan saja sehingga lebih dari 50% duit di alokasikan di penghujung tahun. suatu gambaran yang memprihatinkan. bahkan ketetapan anggaran sering kali pada bulan ketiga sehingga efektif hanya kurang sembilan bulan kita bekerja, dimana tiga bulan pertama kita bekerja tanpa guide. dan ini terus dan terus terjadi.

ya kita sudah memasuki tahun 2008 semoga ada perubahan dalam cara pandang tentang menghabiskan anggaran, ya kita cuma bisa berkata SEMOGA

Thursday, December 27, 2007

Catatan Akhir Tahun 2007

Tanpa terasa beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun 2007. Seperti Biasa tutup tahun bagi akuntan adalah tahun yang banyak menyita waktu. Tujuan Laporan Keuangan sendiri adalah "Menyediakan Informasi Menyangkut Posisi Keuangan, Kinerja, serta perubahan posisi keuangan, Kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dan pengambilan keputusan ekonomi"
Untuk Membuat Laporan Keuangan yang informatif bagi pemakainya, terdapat empat karakteristik pokok yang harus di penuhi. Dapat dipahami, relevan, keandalan dan dapat di perbandingkan.
Laporan Keuangan yang setidaknya disajikan secara tahunan, atau mungkin sering di sebut (periodisitas ) untuk mempermudah di perbandingkan baik dengan laporan keuangan itu sendiri untuk masa yang lampau juga untuk di perbandinkan dengan laporan keuangan perusahaan yang lain.
Salah satu asumsi dasar dalam laporan keuangan adalah dasar akrual, dimana dengan dasar ini pengaruh transaksi dan peristiwa lain di akui pada saat kejadian ( bukan pada saat kas diterima atau di bayar) dan dibuku dan dicatat pada saat periode yang bersangkutan proses disini biasanya disebut dengan Mathcing Concept .
Penyajian yang tepat waktu dan disajikan secara jujur dan memenuhi prinsip-prinsip dasar akuntansi membuat laporan keuangan di akhir tahun sedikit membutuhkan konsentrasi penuh bagi akuntan.
kalo di tahun berjalan kita bisa dengan gampang melakukan koreksi maka berkaitan dengan periodisitas tadi untuk akhir tahun kita tidak bisa mengkoreksi kembali. memastikan bahwa semua transaksi dan peristiwa sudah di catat pada periode yang sesuai dan memastikan bahwa yang tersaji di Laporan Keuangan adalah benar membuat akhir tahun menjadi momen penting bagi seorang penyusun laporan. disini juga biasanya menjadi tolak ukur untung rugi perusahaan, kinerja perusahaan juga akan ditentukan di Laporan Keuangan ini.
Untuk Memastikan bahwa yang tersaji di pos-pos Laporan Keuangan adalah benar maka sudah menjadi keharusan untuk melakukan opname atau inventarisasi di semua pos pos neraca, baik itu aktiva tetap, inventory, Account Receivable maupun Account Payable.
duh kayaknya gak cukup deh kalo ngomongin akuntansi di satu tulisan ini, entar disambung lagi deh kalo sempet. maklum lagi lumayan banyak kerjaan nih